Di era modern yang serba kompetitif ini,
lulus dengan memegang ijazah saja tidak cukup, meskipun dari perguruan
tinggi yang populer sekalipun. Hampir di setiap perusahaan jika merekrut
staf atau karyawan baru pasti melakukan tes untuk mengukur kemampuan
calon karyawan. Sedangkan eksistensinya di lapangan kerja itu sendiri
ditentukan dari kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan, memecahkan
masalah, mengembangkan cara-cara yang baru dalam menyelesaikan
pekerjaannya. Di sinilah pembuktian kualitas yang sesungguhnya dari
suatu perguruan tinggi. Jika perguruan tinggi tersebut sistem
pembelajarannya bagus, mestinya akan bisa menghasilkan lulusan yang
benar-benar memiliki kemampuan riil di lapangan kerja dan mampu bersaing
untuk mendapatkan lapangan kerja tersebut.
Selama SD, SMP hingga SMA, pelajar
dibiasakan dengan sistem belajar dimana mereka datang ke sekolah, duduk
di bangku masing-masing, kemudian disuruh mencatat apa-apa yang
disampaikan oleh pengajar, dan menghapalkannya kembali waktu akan ujian.
Tugas-tugas dan ujian yang diberikan pada umumnya adalah mengulang
kembali apa yang sudah dicatat di dalam buku, serta sudah disampaikan
oleh guru. Siswa tidak dibiasakan untuk langsung merasakan dan mengalami
teori-teori yang diajarkan, juga tidak dibiasakan untuk menciptakan
kreasi-kreasi pemecahan masalahnya sendiri.
Berpijak dari kesadaran akan pentingnya
suatu sistem pembelajaran dalam membentuk kualitas lulusan perguruan
tinggi, STID al-Hadid membangun sistem pembelajaran yang khas dan
benar-benar berorientasi kepada pembentukan skill dan keahlian di
lapangan profesi. Sistem pembelajaran ini adalah sistem pembelajaran
berbasis Keterampilan Proses (KP). Pembelajaran yang menekankan pada KP
adalah proses belajar yang tidak hanya memberikan dan menyuapi siswa
teori-teori dalam suatu pelajaran, melainkan mengajak mereka secara
proaktif untuk menemukan sendiri suatu konsep, mengolah dan
mengembangkannya untuk memecahkan persoalan di kehidupan riil.
Jika siswa dibiasakan dengan
pembelajaran berbasis KP, maka siswa akan terbiasa mengembangkan
pemecahan masalah. Tidak hanya di dalam proses pembelajaran, melainkan
di luar pembelajaran sekalipun. Secara perlahan tapi pasti, pembiasaan
ini akan membentuk moral untuk siswa senantiasa memecahkan persoalan
dengan pendasaran pengetahuan. Meskipun menghadapi persoalan yang
benar-benar baru sekalipun, siswa akan tetap bisa memproduksi
pemecahannya sendiri, tanpa harus menunggu adanya dosen yang memasukkan
data-data ke gudangnya. Dengan kata lain, penerapan pembelajaran KP akan
membangun pembiasaan kemandirian berpikir dalam memecahkan masalah.
- Metode Pembelajaran di Kelas
Metode belajar yang diterapkan di kelas bisa bervariasi bagi tiap
dosen pengajar MK. Beberapa metode yang paling lazim diterapkan antara
lain:
- Sokrates
- Analisa studi kasus
- Seminar kelas
- Narasumber/kuliah tamu
- Tutorial
- Latihan dan Ujian
Dalam sistem pendidikan STID al-Hadid, metode ujian dan latihan yang
disusun sangat berbeda. Ada beberapa model pelatihan dan ujian yang
dijalankan oleh dosen-dosen STID al-Hadid dalam membentuk keahlian
mahasiswa. Model-model tersebut antara lain:
- Analisis teori, penerapan & kritik
- Riset lapangan
- Analisa isu/fenomena sosial
- Mini-project
- Personal/group interview
- Take class exam
- Pembimbingan
Dengan model latihan dan penugasan yang menuntut mahasiswa banyak menyelesaikan persoalan-persoalan riil di masyarakat, maka pasti tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan-kesulitan. Kesulitan ini pun beragam bentuknya, mulai dari kesulitan memahami teori/konsep yang dimaksud, hingga kesulitan untuk mengoperasionalkan teori dalam memecahkan masalah. Hal ini adalah hal yang sangat wajar mengingat dalam pengalaman pendidikan sebelumnya mahasiswa tidak dibiasakan untuk menerapkan teori di kehidupan riil.
Untuk membantu proses pelaksanaan pembelajaran ini, maka dosen-dosen STID al-Hadid senantiasa siap untuk melakukan pembimbingan di luar kelas. Baik pembimbingan secara kelompok maupun personal, selama mahasiswa menyesuaikan dengan jadwal dosen bersangkutan.
Selama ini, tidak jarang pembimbingan dilakukan di berbagai waktu yang tersedia. Pagi, siang, sore hingga malam sekalipun. Dan jika dibutuhkan, dalam beberapa penugasan di beberapa mata kuliah, kelas menyusun jadwal diskusi untuk pembimbingan secara berkelompok bagi seluruh mahasiswa dalam kelas tersebut, kemudian diajukan kepada dosen bersangkutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar