Pages

PERJANJIAN HUDAIBIYAH, STATEGI POLITIK SPEKTAKULER

Banyak tindakan-tindakan Muhammad yang hanya bisa dijelaskan jika kita memahami peran ganda beliau sebagai pemimpin negara yang baru berdiri serta pembawa misis agama. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin negara, ia harus bertindak tegas demi kepentingan negara yang ia dirikan. Muhammad mengizinkan umatnya melakukan tipu daya jika diperlukan untuk mengalahkan musuh Islam.
Dalam kasus perjanjian Hudaibiyah, Muhammad menampakkan dirinya sebagai seorang negarawan yang sangat berbakat dan piawai sekaligus juga seorang juru dakwah agama yang bisa melihat kedepan. Ia bukan seorang idealis yang tinggal di menara gading (ivory tower). Muhammad dapat menangani situasi-situasi yang sulit dengan kemampuannya yang luar biasa serta kepiawian politiknya, meskipun untuk menunda sementara waktu beberapa ajaran Islam atau menyesuaikan dengan tujuan politik.
Dalam perjanjaan Hudaibiyah yang terkenal itu, Muhammad meminta sekretasinya Ali untuk menuliskan kata Rasulullah dibelakan namanya, orang-orang Mekah keberatan dengan hal itu karena mereka belum siap menerimanya sehingga harus di hapus. Ali keberatan untuk menghapusnya sehingga Rasulullah sendiri yang menghapusnya. Sebagai seorang negarawan ia tahu betul bahwa kata-kata itu tidak akan terlalu berpengaruh. Yang penting adalah tercapainya negisasi yang akan memberinya ruang gerak untuk mengkonsolidasikan kedudukannya. Untuk mencapai hal itu, Nabi bahkan bersedia menerima perdamaian yang kurang menguntungkan baginya. Kaum muslimin pada waktu itu hanyalah kekuatan yang baru muncul sehingga dalam keadaan yang kurang menguntungkan itu tidak salah menerima perjanjian tersebut. Inilah salah satu kepiawian Muhammad yang membuatnya menjadi orang kuat. Bahkan para sejarawan Muslim pun mencoba membedakan antara perilaku Muhammad sebagai negarawan dan Nabi.
Meski pada awalnya banyak sahabat yang menyangsikan isi dari perjanjian Hudaibiyah, yang di anggap kekelahan umat islam ketika mengadakan deplomasi dengan utusan orang-orang Quraisy karena dianggap ada beberapa isi perjanjian yang justru menguntungkan orang-orang Quraisy. Bahkan sahabat Ali sempat memboikot untuk tidak menuruti apa yang diperintah Rasul yang menyuruh untuk mengapus tambahan Rasulullah dibelakang nama Muhammad sebagaimana yang kehendaki Suhail (utusan orang-orang Quraisy.
Sebenarnya apa yang dilakukan Muhammad merupakan hasil politik yang sangat bijaksana yang mempunyai pandangan yang jauh kedepan, sangat menguntungkan bagi perkembangan umat Islam. Dengan adanya perjanjian tersebut maka itu merupakan pertama kali Muhammad diakui sebagai seorang pemimpin yang mempunyai kedudukan sama dengan pimpinan-pimpinan Arab lainnya dan tanpa sadar mereka juga mengakui berdirinya dan adanya kedaulatan Islam.
Demikian juga dengan dibolehkannya umat Islam melakukan ibadah haji, merupakan suatu pengakuan dari mereka bahwa Islam adalah agama yang sah diakui diantara agama-agama di jazirah Arab.
Berkat perjanjian Hudaibiyan ini, maka pada tahun yang telah ditentukan (satu tahun kemudian), obsesi umat Islam menjadi kenyataan. Di Makah banyak orang yang membuka pintu hatinya untuk menerima ajakan orang-orang Islam betapapun kondisi mereka dalam pengawasan pemerintah Quraisy.
Masuknya Muhammad ke Makah merupakan langkah yang mempunyai makna stategis bagi terjalinnya hubungan Muhammad dengan berbagai suku. Ibadah haji kali ini telah membuka peluang bagi orang-orang Islam untuk mengadakan dialog dengan mayoritas warga Makah dan warga suku-suku yang lain dengan melancarkan dakwah kepada mereka untuk memeluk agama Islam. Semua itu dapat dilakukan dengan mulus tanpa ancaman yang berarti, bahkan sekalipun dari pihak-pihak yang tidak mau menerima ajakan Muhammad. Tak ada lagi keberanian melakukan ancaman terhadap orang-orang Islam secara terang-terangan dan biadab sebagaimana masa-masa yang silam.
Demikian halnya dengan adanya gencatan senjata, maka Muhammad dengan leluasa menjalin komusikasi dengan penguasa-penguasa diluar zarirah Arab. Muhammad menulis surat yang dikirim kepada raja-raja dan penguasa diluar semenanjung Arab yang isinya berupa ajakan untuk bergabung dalam satu ajaran.
Muhammad mengutus kurir yang ditugaskan untuk menyampaikan suratnya pada Heraklius, Kisra, Muqauqis, Najasyi (Negus) di Abisinia, kapada Haristh al-Ghassani dan kepada penguasa Kisra di Yaman. Demikian juga surat dikirim kepada penguasa Bashra di Siria. Isi surat itu adalah ajakan untuk memeluk agama Islam. Muhammad mengetahui daerah Basrah pada masa Ramawi selalu mengalami perderitaan. Dan secara khusus Muhammad menggugah keadilan dan melepaskan manusia dari kesewenang-wenangan yang terjadi dalam kehidupan mereka.
Disamping strategi sebagaimana diatas. Ada satu cara yang dilakukan Muhammad untuk perluasan Islam adalah dengan cara poligami. Tercatat ada beberapa nama wanita yang dikawini Nabi yang tujuannya adalah perluasan agama Islam semisal Khadijah, Ummu Habibah, Maimunah, Mariyatul Qibthiyah,dll. Ini sekaligus menepis tuduhan Barat yang mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang yang Hipper Sex, mempunyai nafsu besar, gemar kawin untuk melampiaskan nafsu biologisnya.

Unknown

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar